In the Name of Love

Malam itu, di tengah kesibukan yang sudah lazim terjadi di ruang kerja khusus di kamar saya, sebuah SMS datang dari pulau seberang, dari Kakak ipar: ‘Dik, Alhamdulillah Mbak udah ngelahirin, laki-laki.Doakan jadi anak yang sholeh ya’.

Amin… dalam hati saya menjawab. Saya pun segera menelpon Kakak ipar menanyakan keadaan lebih detail dari Mbak dan keponakan muda saya, keponakan kesepuluh… Tapi bukan berarti Ayah dan Ibu sudah memiliki sejumlah sepuluh cucu, lho. Keponakan dalam defenisi keluarga kami, adalah anak dari saudara saya, tidak hanya kandung, tapi juga sepupu. Keponakan saya yang lahir pada malam nan hening tersebut adalah putra kakak sepupu, putri kedua Almarhum Pakde Hamid.

Malam itu tugas pertama saya sebagai Oom yang baik pun dimulai… memberikan sebuah nama bagi keponakan kesepuluh saya… Bingung juga ketika Kakak ipar memberikan kepercayaan tersebut. Apalagi, Kakak ipar sedikit membujuk dengan menggandengkan harapan agar putranya ‘pintar seperti oomnya’.

Sebenarnya bukan hal yang sulit mengambil mozaik-mozaik yang terhampar dalam puluhan huruf Lathin ataupun Hijaiyah, merangkainya dalam sejumlah suku kata, hingga menjadi sebuah nama. Adalah makna dari rangkaian mozaik itulah yang manjadi persoalan rumit dan menghabiskan banyak energi.

Nama adalah doa, harapan, impian, cita-cita, angan-angan, dan mimpi sebuah keluarga.

Karena itu, nama apapun yang malam itu saya pilihkan bagi keponakan kesepuluh saya adalah nama yang juga menjadi doa dan harapan saya akan masa depan keluarga saya.

Terdapat tiga nama yang merayap di sela-sela pikiran saya, lengkap  dengan makna mendalam yang saya harapkan juga menjadi doa yang nantinya menyertai perjalanan hidup sang keponakan: ‘Izzuddin Haykal Karim, Al-Hafidz Khairul Fikri, dan Ahmad Ahsan Rifqi.

Pada nama pertama, jelas saya berharap keponakan saya menjadi yang memiliki kekuatan dan kekuasaan yang dengan keduanya ia mendarmabaktikan hidupnya untuk kemashlahatan umat menuju kemuliaan umat manusia. Ia, saya harapkan, akan menjadi seorang yang memiliki kemampuan mengarahkan kekuasaan benar-benar untuk kemajuan bangsa dan bukan semata-mata kebaikan pribadi yang jamak menghinggapi pemimpin di zaman ini.

Kemampuan intelektual merupakan bidikan saya pada nama kedua. Keponakan yang cerdas yang memiliki kemampuan menjaga pikirannya sehingga mampu menampung segenap kebaikan ilmu pengetahuan adalah harapan saya melalui pilihan nama dengan tiga suku kata ini.

Sedangkan pada yang ketiga, harapan akan pribadi dengan akhlak yang mulia yang mampu menjaga hubungan kemanusiaan dengan baik sesuai petunjuk Ilahi, menjadi dambaan saya melalui nama yang juga bersuku kata tiga. Pribadi yang saya harapkan muncul adalah pribadi yang bertanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan tempat ia tinggal. Rajin kerja bhakti dan ronda malam, mungkin merupakan salah bentuk paling minimal bagi pribadi ini.

Wa Allahu A’lam… Nama mana yang akan dipakai oleh Kakak ipar dan akan disematkan beberapa hari lagi pada keponakan kesepuluh ini, tentu tidak menjadi soal karena keluarga pasti memilihkan yang terbaik sebagai pemberian pertama bagi anggota keluarga baru. Dengan atau tanpa salah satu nama tersebut, doa saya tetap akan mengalir, disamping segenap usaha yang mungkin, agar sang keponakan benar-benar menjadi pribadi pilihan harapan orang tua dan keluarga.

Keponakan… Jangan nakal ya!

Tags:

  1. arifa’s avatar

    nice post...foto ponakannya mana?

  2. yuliandriansyah’s avatar

    Maaf, still not available... Soon deh.

  3. ervin’s avatar

    Om yuli kapan nyusulnya???

  4. yuliandriansyah’s avatar

    Insya Allah nggak lama lagi...

    Kalau jadi Mbak Ervin saya kasih tahu via blog deh...

    Minta do'anya, ya...

  5. Kampanye damai Pemilu Indonesia 2009’s avatar

    Very nice information. Thanks for share.........

    *numpang comment yeee*

Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *