Manajemen Pangan dalam Alquran

Yusuf menjawab” Jadikanlah aku bendaharawan negara, sungguh aku akan berusaha menjaga amanat dan mengetahui pekerjaan.” (QS.Yusuf[12]:55)

Pangan sebagai unsur paling pokok dari kebutuhan hidup manusia selalu menjadi bahan perbincangan dan perdebatan yang masih terus saja mengalir. Dimulai dari kaum Fisiokrat yang melihat pentingnya lahan pertanian sebagai aset paling dominan bagi kemakmuran rakyat, pangan terus mendapat porsi penting dalam strategi pembangunan suatu negara. Beberapa pemerintahan dunia, seperti Amerika Serikat dan Australia misalnya, memberikan subsidi yang luar biasa besar bagi sektor pertanian. Karena sektor inilah yang akan langsung berhubungan dengan hajat hidup rakyat banyak. Tidaklah mengherankan jika kemudian sebuah negara bagian seperti Nebraska mampu mensuplai kebutuhan pangan untuk sepertiga kebutuhan total dunia. Pemerintah Indonesia sendiri juga dahulunya memberikan porsi utama pada sektor ini.

Namun seiring perkembangan zaman dan tuntutan kemajuan teknologi, orientasi pun diarahkan pada industrialisasi. Dampak positifnya memang dapat kita rasakan, namun tanpa struktur pertanian tanaman pangan yang baik swasembada yang dahulu pernah menjadi kebanggaan seakan hanya tinggal dongeng dan cerita lalu saja.

Lalu bagaimanakah Al-Qur’an melihat permasalahan pangan ini? Salah satu surat makiyyah yang cukup banyak memberikan ulasan seputar masalah pangan suatu negara adalah surat Yusuf. Surat bernomor urut dua belas ini banyak menceritakan sebagian kisah hidup Nabi Yusuf as, yakni dalam 98 ayat dari total 111 ayat yang terdapat dalam surat ini. Surat ini diawali dengan penegasan bahwa Al-Qur’an adalah kitab mubinan yang memberi penjelasan kepada manusia dengan perantara bahara Arab agar manusia mau berfikir menggunakan akalnya (QS.Yusuf[12]:1-2). Dalam rangakaian ayat-ayat keempat puluh tiga dan seterusnya urusan logistik mulai dibicarakan. Setidaknya terdapat dua faktor pokok menajemen pangan yang gambarkan ayat-ayat tersebut.

Program Pangan Yang Baik Dan Jelas (Good Programming)
Faktor yang pertama mendapat perhatian adalah masalah Good Programming. Perencanaan yang matang dari suatu kebijakan diterangkan secara rinci dalam ayat 43 sampai dengan 49. Dimulai dari mimpi Sang Raja Mesir yang melihat tujuh ekor sapi betina gemuk dimakan oleh tujuh sapi betina kurus dan tujuh tangakai gandum yang hijau dengan tujuh tangkai yang kering (QS.Yusuf [12]:43). Para ahli nujum kerajaan mengalami kebingungan dengan mimpi ini. Lalu tampilah Nabi Yusuf as, yang sebelumnya dipenjara memberikan penjelasan terhadap masalah mimpi tersebut. Beliau lewat ilmu yang dikaruniakan oleh Allah kepadanya menceritakan bahwa selama tujuh tahun ke depan, Mesir akan mengalami panen yang baik, lalu diikuti dengan masa paceklik dalam rentang waktu yang hampir sama (QS.Yusuf[12]:47-49).

Berdasarkan ramalan futuristik dari Nabi Yusuf inilah selanjutnya diagendakanlah sebuah perencanaan (planning) jauh ke depan, yang matang untuk menghadapi bahaya kelaparan yang mungkin terjadi. Panen dan swasembada pangan yang diperoleh penduduk Mesir selama tujuh tahun diinventarisir untuk kepentingan konsumsi di masa yang akan datang. Upaya-upaya produktif untuk menjaga kestabilan produksi pangan agar seimbang dengan pertumbuhan penduduk pun dilakukan. Partisipasi aktif dari seluruh rakyat Mesir pun tampak dalam keadaan yang serba tidak pasti ini. Sehingga tak mengherankan jika kemudian rakyat Mesir berhasil melewati tantngan pangan yang melanda mereka. Bahkan rangkaian ayat selanjutnya pun menceritakan kepada kita bahwa bangsa Mesir mampu memberi bantuan tetangga-tetangga negeri lain yang kekurangan (QS.Yusuf[12]:58).

Kemampuan Memimpin Yang Efektif Dan Bertanggung Jawab (Smart Leadership)
Faktor kedua yang secara signifikan memberi kontribusi bagi efektifnya program pangan kerajaan Mesir tersebut adalah kepemimpinan yang luar biasa cerdas (smart leadership) dari seorang Nabi Yusuf as. Dikisahkan bahwa setelah menceritakan ta’wil dari mimpi Sang Raja dan diundang ke istana, Nabi Yusuf as menunjukkan kompetensi beliau sebagai seorang yang memilki kemampuan untuk menjadi bendahara negara yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan pangan pada waktu itu (QS.Yusuf[12]:55). Dalam ayat kelima puluh lima ini juga Nabi Yusuf as memberi kriteria yang membuat dirinya layak untuk jabatan penting tersebut. Kriteria pertama adalah hafidh  yang berarti mampu menjaga. Mampu menjaga amanah dan tidak menyia-nyiakannya, baik untuk kepentingan pribadi maupun golongan. Hal ini memang terbukti dengan keberhasilan beliau membawa Mesir tidak hanya aman dari bahaya kelaparan pada masa paceklik, tetapi sekaligus mampu memberikan bantuan pada negara tetangga.

Kriteri kedua yang diajukan oleh Nabi Yusuf as adalah ‘alim yang berarti memiliki kepandaian dan kemapuan intelektual. Hal ini penting mengingat pengaturan masalah suatu negara bukanlah pekerjaan ringan. Dibutuhkan semngat juang tinggi yang tak kenal putus asa untuk mewujudkan cita-cita baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur. Dengan dua kriteria inilah Nabi Yusuf kemudian memimpin badan urusan pangan negeri Mesir kala itu bersiap menghadapi bahaya kelaparan di musim kering. Melalui prediksi yang akurat akan kebutuhan pangan di masa datang, panen yang mencapai swasembada di tujuh tahun pertama disimpan untuk kepentingan masa depan. Hal ini terbukti efektif dan memberi hasil positif sehingga pada akhirnya Nabi Yusuf as mendapat kedudukan terhormat di kalangan bangsa Mesir makiinun amiin (QS.Yusuf[12]:54).

Yang cukup menarik kemudian adalah bagaimanakah kualifikasi seorang Nabi Yusuf as ini dapat diperoleh seseorang. Jika kita melihat berbagai ujian dan cobaan (fit and proper test) yang telah dijalani Nabi Yusuf as, maka nampaknya posisi dan kedudukan yang diperoleh beliau tersebut adalah wajar. Karena melihat besarnya cobaan dan gadaan yang beliau alami selama hidup ini. Pertama Nabi Yusuf as berada dalam keadaan yang tidak mengenakkan semasa kecil. Saudara-saudaranya tidak menyukainya, bahkan memasukkannya ke dalam sumur tua hingga kahirnya ia diambil seorang musafir dan dijual sebagai budak pembesar istana (QS.Yusuf[12]:15-21). Kedua beliau mendapat ujian dari istri majikannya yang mengajak kepada perbuatan yang tercela (QS.Yusuf[12]:23). Nabi Yusuf lulus dari godaan ini, namun karena faktor kekuasaan beliau pun harus rela dimasukkan ke dalam penjara. Penjara inilah yang menjadi ujian ketiga bagi Nabi Yusuf as, yang dengan ketabahan dan keimanannya beliau mampu mengatasinya (QS.Yusuf[12]:33). Itulah juga yang menjadi penguat pondasi akidah Nabi Yusuf as putra dari Nabi Ya’qub as, putra dari Nabi Ibrahim as.

Catatan Akhir
Dari pemaparan yang telah kita lihat di atas dapat kita simpulkan hal-hal sebagai berikut: pertama pembangunan infrastruktur pangan suatu negara akan berhasil dengan baik manakala orientasi ke depan dengan pertimbangan resiko menjadi titik perhatian para pengambil kebijakan. Kedua kemampuan memimpin dengan berlandaskan akidah yang kuat yang juga didasari oleh profesionalitas adalah mutlak adanya bagi setiap usaha mencapai kesejahteraan suatu kelompok di dunia apalagi di akhirat kelak. Mencontoh pribadi unggulan sperti Nabi Yusuf adalah kebutuhan terutama bagi generasi muda yang semakin tereliminir oleh kemajuan semu dari peradaban dunia yang semakin jauh dari nilai-nilai transendental. Akhirnya kepada Allahlah kita berdo’a agar seluruh upaya kita mencapai keridhoan-Nya mendapatkan pahala yang setimpal. WaAllahu A’lam.

Yuli Andriansyah
Departemen Pengembangan Intelektual dan Bahasa
Organisasi Santri Pondok Pesantren UII

Sabtu malam, 10 April 2004...

Tags:

Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *