Maryamah Karpov

Akhirnya, berakhir sudah penantian panjang Ikal untuk bertemu A Ling. Melalui perjuangan berat tak kenal lelah ditambah setumpuk keberanian dan sejuta pertolongan para sahabatnya, A Ling berhasil ditemukan. Namun, bukan happy ending yang Ikal peroleh...

Inilah mungkin jawaban paling ditunggu pembaca setia sastra Indonesia. Petualangan Ikal yang berliku sejak di Pulau Belitong, Jakarta, Eropa dan Afrika, akhirnya diakhiri dengan petualangan di negeri yang membesarkannya, di tengah kehidupan keluarga dan sahabatnya, dan di dekat kekasih hati yang mati-matian telah dicarinya.

Narasi yang mengundang tawa memang masih terus menghiasi sepanjang alur cerita ditampilkan, bahkan ketika berkait dengan kematian. Ikal mewartakan kepada kita kedalaman watak suku bangsa yang menjadi tempatnya hidup, tinggal, bergaul, dan berinteraksi. Bagaimana kekuatan ikatan persaudaraan, keengganan menepati janji, sampai hal remeh-temeh yang mungkin ada pada sebuah suku bangsa, namun tak sempat termaktub dalam pelajaran antropologi.

Karena merupakan puncak tetralogi, semua tokoh Laskar Pelangi, dibawa Ikal masuk dalam ruang 500-an halaman buku ini.

Maryamah Karpov sendiri merupakan sebutan untuk Cik Maryamah (ibunda dari si biolist di sampul buku ini) yang gemar memulai langkah caturnya dengan gaya Karpov. Namanya baru muncul di mozaik 38-an dan hanya diulang sekali-dua kali.

Ikal baru mengajak Lintang, sahabat briliyan yang memberinya kunci menemukan A Ling, untuk urun rembug dalam buku ini, pada setengah buku akhir (halaman 250). Kapasitas Lintang menterjemahkan kebuntuan yang Ikal alami, diurai dengan gamblang dan sekali lagi mengundang decak kagum akan ketidakterbatasan energi pengetahuan yang dianugerahkan Ilahi.

Mahar dengar aksinya yang makin eksentrik, makin keluar pakem manusia normal, juga memberi kontribusi yang tidak kecil, karena melalui 'kecerdikannya yang melampaui' Tuk Bayan Tula lah, petualangan Ikal menjadi tidak lagi musykil dilaksanakan.

A Ling, sang pujaan hati, yang kisah pencariannya demikian mengharu-biru di Edensor, ternyata menyimpan sejumlah rahasia yang demikian mengagetkan. Sampai-sampai Ikal harus menghadapi bajak laut yang bahkan lebih 'ganas' dibandingkan 'Pirates of the Carribeans'.

Selain petualangan seru yang memungkasi tetralogi paling sukses di negeri ini, Ikal juga mengajak pembaca setianya untuk jujur mengakui betapa banyak kepongahan peradaban yang dialami sebagian besar anggota masyarakat kita, keluarga sebangsa kita, dalam menghadapi hingar bingar kemajuan zaman. Mulai dari tradisi dukun gigi yang turun menurun menjadi bagian resmi kehidupan masyarakat, taruhan pada masalah tetek bengek yang susah dijelaskan menurut akal manusia modern, hingga keterpesonaan terhadap 'seragam' sebagai sisa simbol feodalisme yang hari ini tetap kita rayakan keberadaannya.

Membaca Maryamah Karpov, adalah membaca dan menuai mimpi...Mimpi tentang cinta yang pasti dimiliki semua manusia. Karena itu, pesan saya: 'Jangan membaca sebelum menyiapkan mimpi!'

Tags:

  1. Cerita petualangan’s avatar

    Makasih postingannya, sangat bermanfaat

Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *