Sinergi Ilmu dan Iman dalam Isra’ Mi’raj

Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkati sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-Israa’ [17] : 1)

Diantara 117 ayat dalam surat Al-Israa’, bahkan diantara ayat-ayat lainnya dalam Al-Qur’an, ayat pertama dari surat Al-Israa’ seperti yang telah kita kutib di ataslah yang secara jelas menerangkan peristiwa Isra’ dan Mi’raj yang dilakukan Rasulullah saw. atas kehendak-Nya. Peristiwa empat belas abad silam ini merupakan tonggak awal bagi pelaksanaan syariat sholat bagi umat Islam. Dengan demikian sholat menjadi satu-satunya ibadah yang Allah Swt. sendirilah menurunkan perintah kepada Rasulullah saw. Itulah mengapa shalat sebagai aktualisasi keislaman seseorang dijadikan sebagai tiang agama yang menjadi pembeda status iman dan nifak. Esensi shalat sebagai ibadah yang sangat personal menjadikanya media yang secara langsung menjadi penghubung, atau dengan kata lain sarana mi’raj seorang mukmin ke hadirat Rabbnya.

Peristiwa isra’ mi’raj sendiri sebagai media penyampaian kewajiban shalat memiliki arti yang sangat signifikan bagi perkembangan ummat Islam, baik di masa awal Islam ataupun sampai masa kini. Isra’ mi’raj terjadi di masa yang dalam sejarah disebut sebagai ‘am al-huzn (‘amul huzni), mengingat besarnya cobaan yang diberikan Allah Swt kepada Rasulullah. Kematian dua orang yang dekat dan secara aktif membela dakwah beliau, yaitu Siti Khadijah dan Abu Thalib, merupakan pukulan yang cukup telak bagi baginda Nabi. Ditambah lagi makin intensnya kaum kafir Quraisy dalam melakukan teror baik kepada Nabi maupun para pengikutnya. Sehingga peristiwa isra’ mi’raj dan perintah shalat yang menyertainya seolah menjadi obat mujarab bagi kegelisahan dan kesedihan Nabi tersebut. Bukankah Al-Quran mengisyaratkan pentingnya sabar dan shalat sebagai jalan mencari pertolongan di saat susah? Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusu’ (QS Al-Baqarah [2] : 45).

Di lain pihak isra’ mi’raj telah membentuk fondasi awal bagi pengembangan islam lebih lanjut di masa depan. Karena tak lama setelah peristiwa ini, rasul dan para sahabat segera melakukan eksodus dengan menjadikan kota Yatsrib sebagai lokasi hijrah. Hijrah inilah yang pada gilirannya menjadi tonggak bagi perluasan islam sebagai agama universal ke seluruh ufuk bumi. Jika dilihat dari beberapa perspektif di atas, maka tidaklah mengherankan jika peristiwa isra’ mi’raj dengan shalat sebagai fondasi pokoknya merupakan awal yang cukup besar bagi perjalanan peradaban umat islam bahkan dunia.

Betapa tidak. Jika ditilik dari ranah pemikiran ilmu pengetahuan modern, isra’ mi’raj merupakan lompatan awal yang sangat mengesankan dalam upaya membangun kesadaran dan rasionalitas berfikir manusia. Kungkungan mitos terhadap langit yang gemilang di malam hari diruntuhkan oleh peristiwa ini. Langit yang dulunya begitu disakralkan bahkan disembah sebagai tuhan menggantikan Allah Swt. Kesesatan semacam ini dibuka tabir keburukannya oleh peristiwa isra’ mi’raj dengan tembusnya langit untuk Nabi saw atas perkenan Allah Swt. Hal demikian juga masih diperkuat dengan gambaran al-quran tentang kemampuan manusia menembus langit dan bumi, yang sama-sama makhluk Allah, asalkan mereka memiliki kemampuan. Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat melintasinya melainkan dengan kekuatan (QS Ar Rahman [55] : 33).

Shalat Perdamaian
Jika ditilik dari beberapa rumusan di atas tampaklah bagi kita sebuah benang merah yang harus kita retas dalam menghubungkan shalat dengan perilaku keseharian kita, terutama yang berkaitan dengan kemampuan ilmu pengetahuan. Setelah Allah Swt memberikan seberkas sinar yang menerangi pikiran manusia lewat kedahsyatan akal pikiran, maka sudah selayaknya bagi manusia untuk menyembah Tuhannya Yang Maha Kuasa. Menyembah sebagai bentuk pengabdian atas anugrah yang begitu besar. Bukankah dalam banyak ayat Allah Swt mengaitkan iman di hati dengan amalan pikiran yang jernih dengan melihat tanda-tanda kekuasaan ilahi sebagai ciri orang-orang yang diridhoi-Nya? Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan? (QS Adz-Dzariyaat [51] : 20).

Jika kerangka pemikiran yang secara holistik melihat ibadah shalat sebagai pengabdian kepada Allah Swt dan pemanfaatan ilmu pengetahuan sebagai landasan berfikir dapat kita terapkan, maka keselarasan antara ilmu dan iman niscaya akan terjadi. Jiwa manusia yang senantiasa haus akan ilmu pengetahuan akan dapat memanfaatkan jalinan iman dan nurani sebagai penopang ilmu pengetahuan itu sendiri. Sehingga peningkatan nilai dan isi pengetahuan seseorang akan mengantarkanya pada peningkatan pengabdian kepada Tuhannya dan menghindarkannya dari perbuatan merusak akibat ilmu yang diselewengkan.

Karena ilmu yang hampa dari iman dan kontrol ilahiah akan lebih berbahaya akibatnya jika dibandingkan dengan arti sejati kejahatan itu sendiri. Ilmu yang free value akan dengan mudah dibawa ke arah kegiatan destruktif demi kepentingan pribadi maupun kelompok tanpa tanggung jawab pelakunya. Kenistaan manusia lain sebagai akibat sampingannya, akan makin meluas manakala secuil pengetahuan berada di tangan segerombol penjahat. Yang bahkan mereka ini tidak tanggung-tanggung dalam mengeksploitasi agama sebagai alat justifikasi kebenaran perilakunya. Teror atas nama agama misalnya sering mengambil bentuk-bentuk luar agama sebagai tameng demi kepentingan sesaat, yang tidak mengindahkan masa depan kemanusiaan.

Dalam kerangka inilah Allah Yang Maha Kuasa mengutus seorang Rasulullah saw sebagai pembawa agama rahmat bagi seluruh alam (QS Al-Anbiya’ [21] : 107), menjaga keseimbangan keadilan di mata hukum (QS An-Nisaa’ [4] : 57), dan membawa manusia menuju kebenaran ilahi (QS Ibrahim [14] : 1). Peran semacam inilah yang secara signifikan menjadi tugas wajib umat islam sebagai umat terbaik untuk kemanusiaan. Koridor ilahiyah yang ditanamkan lewat semangat isra’ mi’raj sudah saatnya menjadi visi manusia muslim dalam tahap perkembangan dunia yang makin terarah pada penggunaan ilmu dan teknologi sebagai komponen utama kehidupan.

Yuli Andriansyah
Mahasiswa Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Santri Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Yogyakarta, 12 September 2004

Tags:

Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *