Body of Lies

Satu lagi karya sineas Hollywood yang mengupas sepak terjang Amerika Serikat di Timur Tengah muncul di layar perak: Body of Lies. Kali ini Ridley Scott lah menyutradarai sebuah film petualangan agen CIA di sejumlah negara Timur Tengah untuk menemukan dalang pengeboman masal yang menimpa sejumlah negara Eropa ini. Scott yang juga memproduseri film keluaran Warner Bros ini memasang Leonardo DiCaprio dan Russel Crowe untuk beradu akting dalam sejumlah scene yang banyak mengumbar kekerasan tersebut.

Body of Lies, yang diadopsi dari novel karya David Ignatius, tampaknya mampu mewakili trend baru film-film spionase Hollywood yang mengubah kiblat perlawanan dari negara-negara berhaluan kiri (Uni Sovyet, China, Korea Utara, dan lain-lain) kepada negara-negara atau sekelompok masyakarat berbasis Islam. Diawali dengan serangan bom bus di Shieffield, Inggris, pasukan anti teror Inggris yang berusaha menangkap para tersangka serangan justru dijebak untuk kemudian ikut mati akibat para tersangka meledakkan gedung tempat mereka tinggal di Manchester, begitu pasukan anti teror memasuki apartemen yang mereka tinggali. Ed Hoffman (Crowe) yang adalah agen CIA di kantor pusatnya di Langley, selain memberi banyak komentar dan laporan bagi para pengambil keputusan di negaranya, juga menjadi komandan operasi yang terus memantau kondisi riil di lapangan untuk mengungkap kasus ini.

Adegan kemudian berpindah ke Samara, Irak, dimana Roger Ferris (DiCaprio), seorang agen lapangan CIA, melakukan penyamaran untuk membongkar jaringan pengebom bekerjasama dengan seorang penduduk lokal. Melalui seorang informan, Ferris akhirnya berhasil mencapai lokasi yang diduga menjadi basis kelompok yang ia buru. Dengan menyamar, Ferris hampir berhasil memasuki lokasi dan memperoleh sejumlah informasi yang ia perlukan. Namun begitu ada tanda-tanda bahwa penyamarannya diketahui, baku tembak pun tak dapat dihindarkan. Peristiwa yang sepenuhnya diawasi melalui satelit CIA dan dipantau melalui kantor pusatnya di Langley ini, akhirnya memaksa Ferris untuk menyingkir ke Amman, Jordania.

Seperti film spionase lainnya, berbagai aksi penyamaran, penyadapan informasi, intrik dan taktik juga menghiasi film ini. Di Amman, misalnya Ferris bekerja sama dengan Jordanian Intelligence Directorate, semacam BIN-nya Jordania, yang dipimpin oleh Hani Salaam (Mark Strong). Meskipun mau bekerjasama, Hanni tidak sepenuhnya tunduk pada kemauan Ferris sehingga dalam sejumlah kejadian keduanya saling bertolak belakang dalam pandangan. Namun demikian, Hanni tetap menjadi kunci penting bagi jalinan seluruh cerita, termasuk aksi penyelamatan ketika Ferris akhirnya benar-benar ditangkap oleh kelompok pelaku serangan bom dan hampir dihabisi.

Setting film yang mengambil latar belakang Timur Tengah akan membawa penonton pada eksotisme dunia padang pasir dan segala budaya di sekitarnya. Termasuk Bahasa Arab (Arabic) yang menjadi lingua franca disana. Penonton akan melihat fasihnya DiCaprio sebagai Ferris dalam mengucap dan bercakap dengan Bahasa Arab, baik dengan lawan maupun rekannya. Asalamu’alaikum, Insya Allah, dan sejumlah kalimat pendek akan banyak diucapkan oleh sang aktor. Berbagai kota besar di Timur Tengah, mulai Amman, Dubai (Uni Emirat Arab), yang giat membangun dan juga Incirlik (Turki). Selain tentunya Washington DC dan Langley (Amerika) dimana Hoffman hidup dengan kehidupan sebagai agen dan ayah serta suami.

Alur cerita juga mengetengahkan hubungan manusia (pria dan wanita) yang cukup komplikatif. Ferris yang mengalami perasaan (feeling) terhadap gadis keturunan Iran yang menjadi suster di Amman, harus menghadapi masalah karena sang gadis justru menjadi titik lemah yang menjadi jebakan baginya. Belum lagi komentar interogatif yang dilontarkan kakak perempuan sang gadis terkait kebijakan negara Ferris yang sayangnya, Ferris terlanjur mengaku dirinya sebagai political advisor. Komentar dan pertanyaan sang kakak tentu menarik karena disampaikan di meja makan saat Ferris berkunjung dan di depan dua anaknya, keponakan sang gadis.

Tawaran Ideologis ala Amerika
Scott jelas bukan nama baru dalam memetakan hubungan dunia Islam dan Barat melalui sinema. Sebelumnya melalui Kingdom of Heaven (2005), ia diakui banyak pihak mampu menampilkan gambaran yang cukup netral dalam menggambarkan awal Perang Salib III yang diisi penaklukan Jerussalem oleh Shalahuddin Al-Ayyubi. Namun apakah gambaran yang netral itu masih sedemikian kentara di Body of Lies? Terus terang sulit menyebut Scott cukup adil dalam menggambarkannya dalam filmnya kali ini.

Bagaimana Body of Lies menggambarkan pandangan Amerika (atas dunia Arab dan terorisme) sebagai ideologi sentral yang mendominasi alur cerita, secara langsung menunjukkan susahnya masyarakat Barat, setidaknya melalui kacamata Scott, bersikap adil dalam memandang Islam. Seadar gambaran, melalui kata-kata Hoffman pada Ferris, film ini berkali-kali meyakinkan bahwa semua pelaku pemboman adalah tidak innocent: sebuah gambaran bahwa semua serangan bom dalam pandnagan masyarakat Barat adalah kejahatan murni yang tidak berbasis pada fakta historis masyarakat Timur Tengah secara umum yang sebenarnya melakukannya sebagai balas dendam atas ketidakadilan yang mereka alami.

Tengok juga bagian dimana dialog ideologis dibalik pengeboman dielaborasi sedemikian rupa melalui interogasi yang dilakukan pemimpin kelompok pengebom atas Ferris, ketika ia tertangkap. Ferris bersikeras bahwa apa yang dilakukan musuhnya (pengeboman, pembantaian, dan kekerasan) tidaklah beralasan dan sama sekali bertentangan dengan ajaran musuhnya sendiri. Ferris misalnya berkata: “There’s no place in Koran for murder of innocent people and suicide, you know that.

Sebaliknya sang pimpinan kelompok justru menjawab dengan sangat yakin bahwa semua yang dilakukannya berbasis ajaran Ilahi dan bahwa para korban dari pihaknya adalah hamba Allah yang mendapat tempat yang mulia. “It’s a good try. But the Koran said, you speak Arabic, know? : ‘Do not say that those slain in the cause of God are dead. They are alive but you are not aware of them” ia menimpali sambil mengutip QS Ali Imran [3]:169.

Ferris yang mewakili wajah Amerika tentu saja berketetapan bahwa apa yang dilakukan musuhnya adalah pembelokan ajaran agamanya sendiri. “So you misinterpreted the one book you believe in,” katanya.

Pengutipan ayat Alquran dalam film ini sedikit banyak layak untuk dianalisa. Ridley Scott melakukan sedikit kesalahan karena translasi Bahasa Inggris untuk ayat tersebut, yang ditampilkan di dalam layar, lebih dekat kepada translasi QS Al-Baqarah [2]:154. Padahal yang diucapkan sang pemimpin kelompok jelas adalah QS Ali Imran [3]:169 yang sayangnya kurang lengkap karena menghapus ‘wa’ di awal ayat dan sedikit salah, setidaknya dalam pendengaran saya, di akhir ayat karena yang kata kerja seharusnya dibaca majhul (pasif), terdengar tidak dibaca demikian.

Sekedar ilustrasi inilah nash QS Ali Imran [3]:169:
وَلاَ تَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ قُتِلُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمْوَاتاً بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki. (QS Ali Imran [3]:169).

Dan inilah nash  (QS Al-Baqarah [2]:154):
وَلاَ تَقُولُواْ لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبيلِ ٱللَّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِن لاَّ تَشْعُرُونَ
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (QS Al-Baqarah [2]:154).

Kesalahan semacam ini tentu sedikit mengganggu apalagi bagi penonton dengan pemahaman yang memadai. Hal yang lebih kurang sama juga pernah kita lihat dari penulisan ‘Surabaya’ dalam King Kong’-nya Peter Jackson yang kurang pas dengan ejaan di masa cerita film dikemas.

Namun demikian, over all, Scott memang berhasil menggiring penontonnya meyakini para kelompok pengebom benar-benar sebagai penjahat yang harus diwaspadai oleh Amerika. Bukan hanya karena kebanyakan sasaran bom yang telah mereka lakukan, tetapi juga karena sejumlah rencana dan semangat membalas yang selalu mereka dengungkan. Simak misalnya pesan sang pemimpin kelompok kepada segenap anggotanya di awal film.

As we destroyed the bus in Sheffield last week, we will be ready and prepared for the operation in Britain. We will avenge the Americans wars  on the Muslim world. We will come at them. Everywhere. We will strike at random, across Europe and then America, continually. We have bled. And…now they will bleed.

Mengukur Kapasitas Inteligen
Body of Lies juga menyajikan kekuatan intelijen Amerika yang meskipun diakui banyak memiliki kelebihan, toh tetap seringkali mengalami kecolongan. Dalam memantau hampir semua aksi Ferris,misalnya, Hoffman dan stafnya menggunakan kekuatan sistem informasi berbasis satelit dan saluran komunikasi yang menghadirkan rely langsung yang demikian hidup dari lapangan operasi. Bahkan saking tajamnya kapasitas teknologi ini, musuh yang akan menangkap Ferris harus menipu kamera satelit dengan mengepulkan debu sejumlah kendaraan untuk mengecoh rekan-rekan Ferris.

Pameran kekuatan juga ditunjukkan melalui kemampuan tracking dan hacking dalam melacak dan memanipulasi data untuk menemukan musuh utama film ini. Penggunaan information and communication technology tingkat advaced semacam ini memang sudah amat lazim dalam sejumlah karya sineas Hollywood, yang dengan sendirinya berusaha menampakkan wajah adigang-adigung intelijen Amerika di depan dunia. Tontonan semacam ini memberikan dua hal sekaligus untuk penonton bisa nilai, yaitu apakah ‘tampilan film’ memang fit (sesuai) dengan kapasitas inteligen sesungguhnya ataukah berbeda (bisa lebih atau kurang).

Di tengah berbagai kritik kegagalan inteligen Amerika untuk melakukan tugasnya, seperti menemukan dan membuktikan keberadaan senjata pemusnah massal (yang mengawali serangan ke Irak), Body of Lies memang sedikit banyak berusaha menggambarkan tidak mudahnya tugas inteligen di lapangan. DiCaprio dan Crowe misalnya, dalam film ini digambarkan sebagai dua agen yang meskipun dituntut bekerjasama, tetaplah banyak memiliki banyak pendapat berseberangan tentang ‘apa yang harus’ dilakukan di lapangan. Sumber perbedaan pendapat adalah posisi keduanya yang masing-masing memiliki perbedaan pandangan. DiCaprio sebagai Ferris yang ada di lapangan langsung dan Crowe sebagai Hoffman yang memantau dari sumber data inteligen berteknologi canggih dan pengalaman masa lalunya.

Satu hal yang mungkin dianggap kurang oleh penggemar aksi spionase adalah aksi-aksi maut nan atraktif dari sang agen, yang memang tidak demikian diumbar dalam film ini, dibanding misalnya Jason Bourne (CIA) dan James Bond (MI6). Karena bagaimanapun film ini memang lebih dekat pada pengentalan ideologi perang Amerika terhadap negara muslim, yang nafasnya antara lain juga kita lihat pada Lions for Lambs (Robert Redford, Tom Cruise, dan Merryl Streep) ataupun Syriana (George Clooney dan Matt Dammon).

Tags:

  1. Cerita petualangan’s avatar

    Posting menarik, saya sudah bookmark situs ini. Akan merekomendasikan ke teman saya juga.

  2. Indah’s avatar

    terima kasih...
    sangat membantu dalam penyelesaian tugas mata kuliah agama dan demokrasi..

  3. yuliandriansyah’s avatar

    Iya, sama-sama.

  4. online’s avatar

    mengapa tidak:)

Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *