League of Ordinary Gentlemen

Panitia MTQ Mahasiswa Tingkat UII 2007 Foto ini diambil pada Jum'at 22 Juni 2007.

Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Mahasiswa Tingkat UII akhirnya dilaksanakan di beberapa lokasi di Kampus Terpadu: Auditorium, Ruang Kuliah Kelas Internasional, dan Hall FTI dan Ruang Sidang FIAI. MTQ Mahasiswa kali ini amat menarik karena jumlah peserta yang jauh diluar bayangan panitia. Mahasiswa UII dari masing-masing fakultas amat antusias mengikuti kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini.

Direktorat PBMKM UII sebagai penyelenggara kegiatan ini, mempercayakan beberapa tugas kepada kami, yang sebagian tampil dalam foto di atas. Dalam foto yang diambil di akhir kegiatan ini, berdiri dari kanan ke kiri adalah: Mustholih, Agus Purnomo, Ahmad Baliyo EP, Sus Purnomo, Khoirul Himmi S, Arif Rizka N, Syahrial Amin, Susilo Wibisono, dan saya sendiri. Panitia lain yang tidak nampak antara lain adalah Imam Mustofa, M. Zulfa Aulia, dan Ahmad Jupriyanto.

Pada saat menjadi panitia kegiatan ini, kebanyakan kami adalah santri pengabdian: santri yang telah menyelesaikan studi di fakultas dan melaksanakan tugas pengabdian selama minimal satu tahun di unit-unit universitas. Mustholih di Prodi Tarbiyah, Mas Eko di DPPAI, Mas Sus di Ponpes, Himmi di FMIPA, Amin di Ponpes, Susilo di Prodi Psikologi, dan saya sendiri di DOSDM. Mas Agus tentu saja menjadi pengecualian karena merupakan anggota Takmir Masjid Ulil Albab UII 'Generasi Lama'. Arif juga pengecualian karena saat itu masih berstatus mahasiswa yang sebagaimana layaknya mahasiswa teknik lainnya, agak tidak terburu-buru meninggalkan kampus. Mustofa kemungkinan masih di MSI UII, Zulfa di Pusat Studi Hak Kekayaan Intelektual, dan Jupri di PPPI.

Waktu pun berjalan. Dalam rentang waktu yang cukup panjang ini, telah banyak hal mewarnai hidup dan kehidupan para anggota Panitia MTQ tersebut.

Tholih, selepas menyelesaikan tugas pengabdiannya, segera melakukan hijrah kasabiyah untuk jalan hidup yang lebih baik. Setelah berpetualang di beberapa pusat industri di bagian barat pulau Jawa, Tholih akhirnya meniti karirnya di daerah kelahirannya, Lampung. Tholih diterima bekerja pada sekolah yang dikelola salah satu perusahaan gula terkenal di Indonesia, Group Indo Lampung: Sweet Indo Lampung (SIL), Indo Lampung Perkasa (ILP), dan Indo Lampung Perkasa juga Gunung Madu Plantation. Gulaku, salah satu merk gula yang cukup rajin diiklankan di televisi nasional adalah salah produk penguasa gula di Lampung ini.

Indo Lampung jelas bukan sesuatu yang asing bagi kami, masyarakat Lampung. Perusahaan milik Om Liem ini menempati areal yang pastinya cukup untuk membentuk satu kabupaten, atau minimal kecamatan. Tebu yang ditanam pada areal yang panjangnya saja lebih dari 70 km, merupakan pemandangan yang menjadi land mark wilayah ini. Penduduk daerah saya dan sekitarnya, termasuk kakak sepupu saya, banyak yang menggantungkan hidup pada perusahaan ini. Tentu mereka ini kebanyakan adalah buruh pabrik yang ditempatkan di bedeng-bedeng yang dibangun menyerupai perumahan dengan dinding kayu. Kalau mereka sedikit beruntung, bisa naik menjadi karyawan dengan fasilitas perumahan, biasa disebut housing, yang dilengkapi aneka fasilitas.

Nah, Tholih merupakan guru yang mendapatkan amanah mengajar putra-putri karyawan yang bekerja di perusahaan ini. Kalau seorang karyawan menyekolahkan anaknya di sekolah perusahaan ini, maka beban biaya yang dibayar akan menyesuaikan tingkat kepegawaian si karyawan, makin tinggi beban akan semakin meningkat. Makanya kakak sepupu saya lebih memilih untuk tidak menyekolahkan anak-anaknya di sekolah ini. Sekolah di kampung (yang negeri) lebih dipilih, selain faktor biaya juga keberadaan kakek-nenek mereka untuk ikut mengawasi, soalnya susah melakukan tugas sebagai orang tua jika kedua pasangan bekerja.

Dengan bekal gaji (yang tentunya memadai sekali) dan aneka fasilitas (terutama housing), Tholih telah memantapkan diri untuk segera mengakhiri masa lajangnya. Kunjungan formal tahap kedua telah ia lakukan ke Pulau Lombok untuk bersilaturrahmi dan berbicara secara lebih serius kepada orang tua gadis idamannya. Jauh juga sih Lampung-Lombok (gaji pokok saya selama sebulan naga-naganya belum mencukupi deh untuk pergi-pulang menempuh jarak itu).

Mas Agus... As long as I knew... selepas wisuda telah kembali ke daerah asalnya. Mas Agus ini adalah salah satu pelantun Murattal Ghomidi yang dahsyat banget suaranya. Di MTQ Mahasiswa Nasional di Universitas Tanjungpura, Juara II Cabang Hifdzil Quran 5 Juz diraihnya dengan meyakinkan.

Mas Eko... Well. He's been great. Sembari mengakhiri masa pengabdian, beasiswa unggulan Hubungan Internasional diperolehnya dari Depdiknas dan ia berhak sekolah pasca di Gadjah Mada University. Karena program ini didesain untuk exchange dengan universitas mitra luar negeri, maka Mas Eko pun (setidaknya sebentar lagi akan) mengukir sejarah penting dengan melengkapi masternya di Yale University (yang diranking nomor dua oleh THES).

Adapun Mas Sus, selain sudah menjadi staf di FK UII, kayaknya his marriage-lah yang layak membuat kami harus lebih mampu meningkatkan semangat juang dan doa demi menyokong masa depan.

Berdiri paling tengah adalah Himmi. Sekarang sudah menjadi warga negara Cibinong yang bekerja di LIPI. Sudah menikah dengan mantan koresponden Antara yang juga adalah pegawai Departemen ESDM. Himmi sudah tune dengan pekerjaannya, sering keluar masuk negara lain untuk seminar, dan aktivitas penambah grade akademik lainnya.

Arif? So far Alhamdulillah sudah lulus dan sedang pengabdian di prodinya... Selama mahasiswa juga sudah berpetualang di dunia robot. Masih Lazialle juga. Masih main catur. Masih Arif, lah. Tapi sebentar lagi mungkin sudah akan dipanggil Pak Dosen atau Aa' (?).

Next is Syahrial. Kelas satu Aliyah, ia sekamar dengan saya bersama dua teman lain. Bersama Julius (Psikologi UGM 2001, sekarang di PT. Telkom), kami pernah dua kali membela almamater dalam Lomba Debat Bahasa Inggris. Anehnya ia dan saya sama-sama tersandung Psychologygate (undefined term for special purpose). Selain juga meraih beasiswa unggulan Depdiknas, Syahrial juga sempat menjadi staf Laboratorium Bahasa UIN Suka. Sekarang ia bekerja di PT. PLN.

Susilo... Juga sedang S2 di UGM. Menjadi staf peneliti DPPM. Mengawal banyak tim PKM, penulisan karya ilmiah mahasiswa. Banyak proyeklah intinya.

Mustofa... Sudah akan (kembali) menjadi penduduk Lampung dengan status dosen STAIN Metro (lokasinya kurang lebih satu jam perjalanan dari rumah saya). Juga akan segera menikah (at least sudah menemukan final target, menurut sumber yang agak sedikit dapat diyakini kebenaran kata-katanya).

Zulfa yang dua kali bersama saya dan Husna memperkuat Tim MTQ UII (2003 Juara II di Unpad Bandung dan 2005 Juara I di Untan Pontianak), saat ini sedang menyelesaikan studi pascasarjana juga dengan beasiswa unggulan Depdiknas di Universitas Diponegoro. Masih Milanisti (entah senang Beckham atau tidak). Masih percaya akan kapasitasnya sebagai penyerang. Masih sendiri juga tampaknya. Dan masih sering main ke Jogja, karena kakaknya memang di sini.

Jupri? PNS Departemen Agama. Setelah pengabdiannya selesai, lowongan pegawai di daerahnya segera dikejarnya dan hasilnya Alhamdulillah. Sebentar lagi pasti segera memboyong kekasihnya yang bekerja di Jogja untuk menjadi Nganjuk resident.

Inilah sekelumit kisah teman-teman yang banyak menghiasi perjalanan hidup saya selama ini. Tidak mengharu biru banget, sih. But... at least some observer may find some significant point of view. Here is the end.

Tags:

  1. Kampanye damai Pemilu Indonesia 2009’s avatar

    bookmark your blog...thanks 4 share

    *numpang liwat yeee*

  2. yuliandriansyah’s avatar

    Yup. Thanks...

  3. jazy’s avatar

    ka rial kok jadul banget yaaaa... hahahahahahaha..'
    beda deh ma sekarang,,, tambah ganteng, hweeee

Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *