Wanita dalam Kehidupan Nabi dan Ajaran Islam

Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptaan kamu dari jenis laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal secara baik. Sungguh yang termulia di sisi Allah diantaramu adalah yang paling takwa kepadaNya  (QS Al-Hujurat [49] :13)

Berbagai studi historis maupun psikologis yang dilakukan terhadap kehidupan Nabi Saw dan pengembangan awal islam, seringkali didominasi oleh subjektivitas pemikiran yang berdampak pada pendeskritan pribadi Muhammad bin Abdullah sebagai nabi dan rasul terakhir yang dipercayai oleh umat Islam. Hal ini antara lain tampak pada kritikan tajam pada perilaku Nabi Saw dalam kehidupan sehari-harinya, yang sebenarnya sangat mungkin dipengaruhi oleh budaya dan adat kebiasaan masyarakat di masanya.

Poligami, beristri dengan lebih dari satu wanita, yang beliau lakukan adalah contoh paling mudah untuk diserang oleh para orientalis dan islamis sebagai perilaku menyimpang yang merendahkan derajat wanita. Nabi Saw yang pernah menikahi sampai sembilan orang wanita di masa hidupnya, dipandang sebagai pribadi yang menggunakan kekuasaan keagamaan demi memuaskan nafsu seksualnya, melalui pelegalan poligami tanpa adanya kebolehan poliandri, menikah dengan lebih dari satu laki-laki, bagi perempuan.

Jika dikomparasikan dengan kondisi masyarakat modern yang cenderung pada upaya penyetaraan kedudukan pria-wanita, peri kehidupan Nabi Saw saat itu boleh jadi adalah suatu pelanggaran hak asasi bagi para wanita. Apalagi jika tidak dilihat secara lebih mendalam kondisi masyarakat Arab pada waktu Islam diturunkan kala itu. Pandangan subjektif yang cenderung melihat persoalan hanya dari satu sisi inilah yang kemudian membawa dampak besar bagi pandangan dunia terhadap Nabi dan agama Islam yang beliau bawa. Padahal Islam dan peri kehidupan Nabi telah memberi posisi yang teramat tinggi bagi peningkatan harkat dan martabat wanita, bahkan jika dibandingkan dengan kehidupan modern saat ini.

Sejarah memang membuktikan bahwa Nabi Saw pernah mempraktekkan poligami. Namun itu beliau lakukan di sisa usia beliau yang sembilan tahun. Setelah menikah dengan Khadijah yang adalah seorang janda, dari usia 25 tahun hingga 54 tahun, monogamilah yang beliau jalankan sebagai prinsip pernikahan dalam kehidupan keluarga. Dan hanya dari istri pertama inilah beliau memperoleh keturunan yang diberkahi usia panjang. Padahal dari para ahli kesehatan seksual dan kejiwaan, kita mengetahui usia 25-54 atau sekitar itu, justru merupakan masa di mana gairah kehidupan, dalam hal ini keinginan terhadap kecantikan dan keindahan tubuh lawan jenis, tampil begitu menggebu dalam diri seseorang. Bukan pada usia yang dapat dikatakan senja, yaitu pada sekitar 50 dan 60-an, seperti pada pernikahan poligami yang dilakukan oleh Rasul.

Dari sisi yang lain dapat kita lihat bahwa, istri-istri yang dinikahi Nabi Saw, kebanyakan adalah janda-janda yang dengan pernikahan itu kedudukan dan harkat mereka lebih terjaga. Saudah binti Zam’ah, Hind binti Abi Umayyah, Zainab binti Khuzaimah adalah beberapa contoh dari istri Nabi Saw yang merupakan janda dari para sahabat yang meninggal dalam perang sebagai kerangka jihad, untuk membela dan mempertahankan kebenaran agama. Kehidupan berat yang disandang para janda ini beserta tanggungan anak-anak membuat pernikahan mereka dengan Nabi Saw adalah suatu anugerah sekaligus lompatan bagi keselamatan hidup mereka.

Dalam pernikahan lainnya, Nabi Saw senantiasa mengedepankan aspek perdamaian dan persahabatan sebagai latar belakang pernikahan. Pernikahan beliau dengan Huriyah binti al-Haris dan Shafiyah merupakan contoh upaya beliau menyelesaikan pertentangan dengan kelompok masyarakat yang menjadi musuhnya kala itu, yaitu suku al-Haris dan Bani Quraidzah. Untuk menjalin persahabatan yang lebih kuat dengan sahabat utama beliau, dinikahinya Hafsah binti Umar bin Khattab dan Aisyah binti Abu Bakar.

Inilah peri kehidupan pernikahan yang Nabi Saw lalui, yang justru begitu mengangkat derajat wanita, bukan menjatuhkannya dalam belenggu jahiliyah yang di masa itu banyak terjadi. Tengoklah puncak-puncak peradaban dunia kala itu, Yunani Kuno, Babilonia, Mesir dan lain sebagainya, bagaimana perlakuan bangsa-bangsa yang mendiami wilayah tersebut terhadap wanita dan kehormatannya.

Jika ditelusuri kembali pada teks-teks Alquran yang mengatur masalah poligami, akan ditemukan betapa perlindungan Islam terhadap wanita, adalah begitu tingginya. Kita bisa melihatnya dari ayat ketiga (3) dari surat An-Nisa’ [4], yang banyak dianggap sebagai justifikasi praktek poligami dalam islam: “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap perempuan (yatim), maka kawinilah yang kamu senagi dari wanita-wanita (lain) dua, tiga, atau empat. Lalu jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka seorang saja, atau budak-budak wanita yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” Ayat ini turun sebagai respon terhadap perilaku seorang wali gadis yatim, yang ingin menikahinya karena kecantikan dan kekayaan harta peninggalan yang dimiliki si gadis, tanpa ada keinginan untuk memberi mas kawin.

Alquran secara tegas melarang hal itu, karena unsur penganiayaan yang akan menimpa sang wanita akibat keinginan sepihak dari laki-laki yang tidak bertanggung jawab tersebut. Padahal dalam sebuah pernikahan yang diatur Islam, wanita memiliki kedudukan yang terhormat, karena hartanya tidak boleh dikuasai secara semena-mena oleh sang suami (QS An-Nisa [4]:6). Suamilah yang dalam konsep Islam bertanggung jawab dalam menjaga keberlangsungan hidup keluarga, termasuk istri dan anak-anaknya (QS Al-Baqarah [2]:233). Suami juga berkewajiban untuk berperilaku yang baik lagi terpuji kepada perempuan yang ia nikahi (QS An-Nisa [4]:18), karena mereka berdua telah dijadikan mitra yang saling melengkapi dalam kehidupan, layaknya pakaian yang melengkapi pemakainya (QS Al-Baqarah [2]:187).

Dalam konteks waris sebagai salah satu bentuk kepemilikan dan hubungan keluarga pun Alquran memberikan posisi yang demikian besar bagi wanita. Jika pada masa jahiliyah warisan hanya diberikan kepada lelaki yang secara fisik memiliki kekuatan saja, dengan melupakan wanita, anak-anak, dan manula, maka Islam memberi pilihan lain yang lebih adil. Laki-laki punya bagian dari harta yang ditinggalkan oleh kedua orang tua dan kerabat, juga wanita punya bagian dari peninggalan yang ditinggal oleh kedua orang tua atau kerabat. Sedikit atau pun banyak bagian itu suatu ketentuan, demikian antara lain wasiat Allah SWT dalam An-Nisa [4] ayat tujuh (7).

Sejarah memang bisa jadi bercerita lain mengenai peri kehidupan wanita pada bangsa-bangsa yang mengagung-agungkan Islam sebagai jalan hidupnya. Kelamnya sejarah yang diwarnai kilatan pedang dan senjata tajam, memang menggiring wanita pada posisi paling lemah dalam lajur kehidupannya. Posisi terjepit inilah yang kemudian membawa dampak psikologis dan teologis sekaligus dalam masyarakat di dunia Islam. Sehingga setiap upaya mengembalikan posisi wanita dalam dataran yang lebih realistis sesuai dengan standar yang dicontohkan Nabi Saw lewat pernikahannya seolah menjadi barang tabu yang harus dimusuhi dan ditiadakan sama sekali.

Padahal dari sejarah pula kita melihat peranan strategis wanita dalam menopang kegemilangan generasi awal Islam membangun pondasi bagi terwujudnya benteng-benteng peradaban Islam di seluruh penjuru dunia. Sejarah Islam senantiasa merekam keberanian seorang Aisyah r.ha. dalam menentang Ali k.w. yang menjadi khalifah di masa itu, meskipun Ali k.w. sendiri adalah menantu Nabi Saw. Lebih ke belakang lagi, juga dapat kita cacat bagaimana Nabi Saw secara rutin memberi bekal ilmu melalui pengajian agama yang khusus bagi para wanita muslimah kala itu, sebagaimana hal itu beliau berikan pada kelompok sahabat laki-laki. Islam juga tidak akan melupakan jasa seorang janda kaya, Khadijah binti Khuwailid, yang gigih melindungi dakwah dan perjuangan Nabi sebagai seorang penyeru ajaran kebenaran.

Paparan di atas secara gamblang menyadarkan kita bersama, bahwa sudah selayaknya wanita memberi peran lebih bagi peradaban secara keseluruhan melalui peran strategis yang bisa dibangun. Pemberdayaan kembali peran keluarga di semua lini kehidupan sudah selayaknya kembali menjadi pertimbangan bagi pengembangan masyarakat Islam. Sekat-sekat budaya dan sejarah masa silam yang tidak perlu diungkit harusnya dapat disingkirkan dari peta peradaban baru yang akan dibangun. Perdaban baru yang melihat wanita sebagai bagian dari kehidupan dan memiliki peran bagi tumbuhnya kesadaran kemanusiaan yang lebih hakiki.

Yuli Andriansyah
Mahasiswa IESP Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia
Ketua Organisasi Santri Pondok Pesantren UII

Yogyakarta, 23 Mei 2005
A very old writing. Hoped it helps.

Tags: ,

  1. konong’s avatar

    thanks bnyak mas,,,,
    atas artikel2 nya.....

  2. nieza’s avatar

    Terimakasih atas informasinya

  3. Raesya’s avatar

    izin share jazakullah khaer..

Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *