Ramadlan dan Format Ideal Masyarakat Islam

Bulan Ramadlan(lah waktu berpuasa itu), yang saat itu Alqur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan serta yang akan memisahkan yang benar dari yang batil. Barang siapa menyaksikan awal bulan, maka berpuasalah…(QS Al-Baqarah [2] : 185).

Bagi umat Islam, terlepas dari berbagai latar belakang madzhab dan pemikiran keagamaannya, Ramadlan selalu memberi arti tak ternilai di setiap tahun perjalanan hidup yang mereka lalui. Bulan kesembilan dari kalender qamariyah ini senantiasa dinantikan sebagai tamu agung yang begitu pemurah membawa berbagai hadiah yang diberikan kepada siapa pun yang menyambutnya dengan hati gembira. Dan yang tak kalah penting adalah Ramadlan selalu meninggalkan oleh-oleh yang jumlahnya sangat banyak untuk ukuran manusia hingga mereka akan berharap seandainya saja setiap bulan dalam setahun adalah ramadlan. Adalah wajar jika kemudian bulan Ramadlan begitu ‘dikeramatan’ dan diberi porsi khusus dalam ranah lahir maupun batin umat Islam.

Ramadlan sebagai bulan ibadah sebenarnya tidak melulu menjadi bulan puasa dan tarawih seperti yang selama ini banyak dipahami masyarakat. Lebih dari itu semua, Ramadlan pada dasarnya merupakan bulan pengabdian umat Islam terhadap dunia secara komunal. Ibadah sosial yang secara komunal dilaksanakan oleh sebagian besar ummat Islam yang mampu secara ekonomi pada hakikatnya merupakan sumbangsih besar bagi peletakan dasar-dasar kehidupan egaliter di muka bumi ini. Hal demikian memang dapat dilaksanakan di luar Ramadlan, namun intensitas yang begitu tinggi di bulan ini memberi makna yang lebih jelas terhadap pola kesetaraan derajat manusia dalam tinjauan agama. Sekaligus meletakkan pondasi ideal Ramadlan sebagai bulannya ummat Islam di muka bumi.

Banyak hadits yang secara qauly menyiratkan anjuran Rasulullah Saw untuk memperbanyak ibadah sosial di bulan ini. Memberi makan seorang yang berpuasa misalnya, merupakan salah satu amalan sunnah yang memberikan pelakunya pahala seperti yang diperoleh oleh orang yang diberinya makan, tanpa sedikit pun ada pengurangan. Hal demikian jelas menunjukkan tuntunan yang begitu mulia dari ajaran Islam terhadap setiap usaha membantu dan memberi orang lain. Selain itu, banyak riwayat lain yang secara eksplisit memperlihatkan intensitas Nabi untuk memberi selama bulan Ramadhan. Kesemuannya ini merupakan indikasi akan perlunya pemantapan peran Ramadhan sebagai bulan pengabdian sosial, menuju tercapainya kesejahteraan yang lebih merata dalam masyarakat Islam.

Puasa dan Semangat Egalitarianisme dalam Agama

Diantara sekian banyak ibadah yang telah juga disyari’atkan kepada ummat sebelum Rasulullah Saw, puasa Ramadhanlah yang secara tegas dinyatakan sebagai ibadah orang-orang sebelum kita. Dalam ayat 183 surat Al-Baqarah yang menjelaskan kewajiban puasa lafadz ‘kama kutiba ‘ala alladzina min qablikum’ mengisyaratkan dengan jelas bahwa puasa telah menjadi bagian dari syari’at umat terdahulu. Ini merupakan petunjuk mengapa puasa yang begitu berat diwajibkan kepada ummat akhir zaman, sebagai pembentuk pribadi takwa. Karena dengan kesamaan pada satu aspek ibadah tersebut, sesungguhnya kedudukan setiap ummat bisa sama-sama setara dalam artian tidak ada perbedaan yang bersifat fisik jasmani. Karena sebagaimana tujuan puasa yang juga menjadi penciptaan manusia yang beraneka ragam bentuknya, takwalah yang menjadi tolak ukur ketinggian derajat suatu bangsa, inna akramakum ‘inda ‘Llahi atqakum (QS Al-Hujurat [49] : 13). Bukan kelebihan fisik dan usia, bukan pula kelebihan perolehan harta dunia.

Manusia, karenanya tidak boleh dihina karena alasan kecacatan pada fisiknya, ataupun kekurangan pada kemampuan diri yang lainnya (QS Al-Hujurat [49] : 11). Tiada pula manusia disakiti hatinya dengan pemberian yang diungkit-ungkit (QS Al-Baqarah [2] : 263). Tidak boleh pula dengan ketamakan dan angkara seseorang mengambil apa yang menjadi hak saudaranya sesama manusia dengan cara-cara yang bathil (QS Al-Baqarah [2] : 188, An-Nisaa’ [4] : 29). Dan puasa dengan tegas merupakan medan perjuangan dalam menghilangkan setiap jenis kedengkian dan ketamakan kepada orang lain tersebut.

Karena alasan itulah, semangat yang dibangun dalam ibadah puasa senantiasa bermuara pada pengembalian manusia kepada kodrat awalnya sebagai makhluk yang setara di hadapan Rabbnya. Sehingga setiap manusia mendapat hak hidup dan berkembang yang sama sebagaimana masing-masing mereka juga mendapat kewajiban yang sama untuk menjadi khalifah-Nya di muka bumi. Memakmurkan bumi dengan menegakkan ajaran-ajaran Ilahi, menjaganya dari tangan-tangan tak bertanggung jawab (QS Ar-Ra’du [13] : 25), untuk kemudian memberikan rahmat dan kedamaian dalam kehidupan bagi seluruh alam (QS Al-Anbiya’ [21] : 107). Sebagai pendidikan awal, puasa akan dikatakan berhasil, jika cara pandang manusia beriman yang melaksanakannya telah berubah. Dari melihat orang lain dari kacamata harta dan tahta dunia menjadi cara pandang iman dan takwa.

Infak dan Relativitas Kepemilikan Harta

Banyak manusia yang silau akan arti dasar sebuah benda ketika hatinya telah berisi banyak ketamakan terhadap dunia. Harta dan setiap bentuk kekayaan yang awalnya menjadi titipan untuk diberikan kepada yang berhak, berubah menjadi tujuan dan sesembahan dalam kehidupan dunia. Siang dan malam di sepanjang garis kehidupan lalu digunakan hanya untuk mencari, menumpuk, dan menimbun harta yang disangka akan mengabadikan dirinya (QS Al-Humazah [104] : 2-3). Bahkan ketika maut akan menjemput pun, harta masih dianggap mampu menyelamatkan jiwa pemiliknya, padahal ia tak lain hanya fatamorgana yang hanya menambah kehausan nafsu memiliki manusia yang tamak dan rakus.

Ramadlan datang sebagai pencuci kekotoran jiwa manusia yang rakus tersebut. Manusia diyakinkan bahwa harta adalah amanat Allah SWT yang harus ditunaikan hak-hak orang miskin yang meminta-minta didalamnya (QS Adz-Dzariyat [59] : 19, Al-Ma’arij [70] : 24). Harta bukanlah tujuan kehidupan, melainkan sarana mencapai derajat ketakwaan yang lebih hakiki. Kita memang dibenarkan, bahkan diperintahkan, mencari kebahagiaan akhirat dan dunia sekaligus (QS Al-Qashsash [28] : 77), tapi jangan sampai kebahagiaan dunia yang antara lain berwujud harta tersebut justru melalaikan kita dari tugas utama sebagai khalifah-Nya.

Dalam rangkaian ibadah Ramadlan, infak yang artian dasarnya adalah memberi orang lain, mendapat porsi yang besar. Siapa yang memberi makan seorang shoim, ia mendapat pahala setara pahala puasa orang yang diberinya makan. Siapa yang berderma pada anak yatim piatu, Allah SWT akan mengangkat derajatnya. Dan siapa berinfak demi mencapai ridha-Nya pahala akan dilipatgandakan baginya (QS Al-Baqarah [2] : 261). Bahkan secara lebih khusus, dalam bulan Ramadhan ummat Islam diwajibkan mengakhiri ibadah puasa dengan salah satu bentuk infak yang berwujud zakat jiwa yang diambil sebagai penyempurna puasa.

Zakat jiwa yang biasa disebut zakat fitri ini diwajibkan bagi setiap mereka yang masih menghirup udara kehidupan hingga terbenamnya matahari di hari terakhir Ramadhan. Ia diberikan sebagai pemberi hiburan dan penyejuk hati bagi mereka yang tidak dapat menikmati indahnya hari raya seperti kebanyakan orang lain. Juga untuk mereka yang menderita akibat ketidakadilan manusia lainnya dalam mengelola harta dan kekayaan sebagai anugerah Ilahi. Zakat inilah yang menjadi salah satu sumbangan utama dari ajaran Islam bagi manusia dan kemanusiaan sebagai wujud kepedulian sosial yang terus dibangun di dalam bulan yang mulia ini, yang didalamnya kebaikan dan keburukan hati manusia dibedakan dengan jelas, kebajikan dilipat gandakan pahalanya.

Format Ideal Masyarakat dalam Islam

Jika demikian berarti lengkap sudah cetak biru dan format masyarakat yang ingin dicapai ajaran Islam pada bulan Ramadlan ini. Lewat tempaan selama sebulan penuh, umat Islam dididik menjadi hamba yang memiliki hubungan vertikal yang baik dengan Allah lewat anek ibadah di bulan suci ini. Puasa yang berat dilaksanakan dengan keikhlasan di siang hari, shalat malam menjadi aktivitas yang kontinyu. Alqur’an pun dijadikan hiasan bibir lewat tilawah yang menyejukkan hati selama melaksanakan ibadah puasa.

Di sisi lain umat Islam juga membangun kesadaran horizontal dengan makhluk Allah yang lain atas dasar pengabdian kepada-Nya. Bershadaqah kepada yang membutuhkan dengan hanya mengharap kembalian dari-Nya, memberi makan mereka yang kelaparan, serta ditutup dengan zakat fitri sebagai penyempurna ibadah satu bulan. Dua hal diatas jika mampu dimaknai dengan benar sebagai bagian dari kehidupan dan dinamika umat pastilah mampu membawa perubahan yang signifikan bagi masa depan umat islam. Apa lagi dalam kenyataan sehari-hari kita melihat lemahnya kemampuan umat dalam berbagai bidang. Ramadhan dengan semangat perubahannya seharusnya mampu meninggalkan kesan yang akan menjadi awal bagi peningkatan harkat daan derajat umat.

Akhirnya dapatlah kita sebutkan di bagian akhir tulisan ini bahwa Ramadlan yang di dalamnya Allah SWT menurunkan kitab suci bagi ummat Islam tersebut, menyimpan banyak sekali hikmah bagi manusia dan kemanusiaan. Ia merupakan bulan dimana manusia muslim mendapat fasilitas ibadah begitu rupa, sehingga setiap amalan membuahkan lipatan pahala yang tak terkira, yang dengan pahala itu ummat akhir zaman ini tidak lagi ketinggalan dengan ummat terdahulu dalam pengabdian kepada-Nya. Bulan kesembilan dalam penanggalan berdasarkan peredaran bulan ini, juga merupakan medan perjuangan manusia beriman untuk membangun kesadaran sosialnya dalam membangun silllaturahim dan ukhuwah dengan sesama manusia dalam bingkai kasih sayang terhadap sesama. Karenanya, infak sebagai wujud kepedulian terhadap penderitaan orang lain memiliki urgensi yang mendalam di bulan seribu bulan ini. Semua itu disyari’atkan-Nya tak lain dalam rangka membentuk pribadi takwa yang menjadi mahkota penciptaan dan pengutusan makhluk bernama manusia ke muka bumi yang fana dan jauh dari hakikat keabadian ini.

Yuli Andriansyah
Asisten Dosen di Fakultas Ekonomi UII dan Ketua OSPP UII
Ditulis, Selasa, 2 November 2004

Tags:

  1. surya’s avatar

    Tulisan yang bermanfaat. terima kasih.

Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *