Superfreakonomics dan Insentif Bagi Manusia

Belum lama ini (10/5), George Soros, salah seorang pakar investasi global, yang sering dikaitkan dengan krisis moneter Asia akhir 1990-an, berkunjung ke Indonesia. Soros, yang berkunjung dalam kapasitasnya sebagai penasehat khusus Sekjen PBB terkait perubahan iklim, diterima Presiden SBY dan menyampaikan apresiasinya kepada pemerintah RI atas capaian dalam pengurangan emisi karbon, salah satu isu menonjol dalam perang terhadap global warming atau pemanasan global. Namun benarkah pengurangan emisi karbon yang terus diupayakan lembaga dan kalangan internasional terutama Perserikatan Bangsa-bangsa merupakan solusi terbaik bagi global warming?

Jika pertanyaan diatas diajukan pada para aktivis lingkungan atau pegiat kampanye anti global warming pada umumnya, mereka pasti sepakat bahwa pengurangan emisi, baik dari kendaraan maupun industri, merupakan solusi terbaik bagi masalah ummat manusia ini. Namun jangan harap menemukan jawaban tersebut, jika pertanyaan serupa diajukan kepada Steven D. Levitt dan Stephen J. Dubner. Keduanya justru akan menyarankan penduduk dunia untuk mengurangi konsumsi daging sapi, dan bukan merubah moda transportasi ataupun pola kerja industri secara umum.

Demikian antara lain pesan yang disampaikan kedua penulis best seller tersebut dalam karya terbaru mereka, Superfreakonomics. Superfreakonomics diterbitkan pertama kali di Amerika Serikat pada 2009 lalu dan diterbitkan dalam Bahasa Indonesia oleh PT Gramedia Pustaka Utama, tahun 2010 ini, dengan judul Superfreakonomics: Pendidingan Global, Pelacur Patriotik, dan Mengapa Pengebom Bunuh Diri Harus Beli Asuransi Jiwa. Setelah sukses dengan Freakonomics pada 2005 lalu, Levitt dan Dubner kembali hadir menyapa pembaca dengan Superfreakonomics, yang terasa lebih renyah dan menantang. Renyah karena bahasa yang digunakan begitu mengalir, dan menantang, karena sebagaimana dalam buku sebelumnya, kedua penulis kembali menghadirkan tema-tema nyeleneh yang sebagian besar ekonom mungkin akan menganggapnya aneh untuk dibahas.

Sebagaimana nampak dalam anak judul, buku ini mengulas beberapa aspek, seperti isu gender, terorisme, psikologi masyarakat, pemanasan global, dan solusi-solusi sederhana untuk masalah krusial di sekitar kita. Namun, sebagaiman uraian singkat di awal tulisan ini,  Levitt dan Dubner menyajikan permasalahan-permasalahan ini dengan sudut pandang yang relatif berbeda, dengan data-data yang tak terduga dan bahkan kadang menyentuh isu yang bagi sebagian masyarakat masih tabu untuk diulas, baik karena konteks budaya maupun pemahaman masyarakat pada umumnya.

Terkait gender misalnya, Levitt dan Dubner secara meyakinkan menunjukkan bahwa sampai saat ini pun persamaan antara pria dan wanita masih merupakan sesuatu yang lebih banyak dijadikan diskursus dan belum sepenuhnya menjelma dalam kehidupan. Contoh ekstrim yang diajukan oleh keduanya antara lain anggapan sebagaian besar masyarakat India akan posisi rendah wanita. Bahkan dalam contoh negara maju pun, wanita sebenarnya masih diposisikan lebih rendah dari pria, setidaknya dari perbandingan pendapatan yang diterima dua kelompok gender ini.

Keberanian Levitt dan Dubner dalam menulis antara lain juga tercermin dari bahasan tentang pendapatan pekerja seks komersial saat ini dan sekitar seabad lalu. Untuk dua masa yang berbeda ini, perubahan pola hidup masyarakat Amerika secara umum telah membuat mereka yang sekarang hidup dari bidang ini cenderung tidak seberuntung pelaku yang sama seabad lalu. Salah seorang penulis, Levitt, bahkan perlu melakukan wawancara khusus dengan seorang pekerja seks komersial yang mengadopsi kemajuan teknologi informasi untuk kelancaran ‘bisnis’-nya. Bahkan pekerja seks komersial tersebut, yang menggunakan internet untuk menggaet pelanggan, belakangan juga ingin menekuni bidang keilmuan sebagaimana yang ditekuni Levitt, ilmu ekonomi.

Dalam Superfreakonomics, Levitt dan Dubner kembali menunjukkan peranan insentif dalam mengarahkan dan menstimulus kehidupan manusia. Asalkan insentif dikelola dengan benar, Levitt dan Dubner meyakini, sejumlah persoalan dapat diselesaikan dengan baik. Insentiflah yang menurut mereka mengarahkan umat manusia mampu melakukan aneka penemuan, inovasi teknologi, dan bahkan menumbuhkan sikap sosial dalam masyarakat. Dalam kerangka yang lebih luas, insentif bahkan bisa menjadi solusi yang lebih murah dan menguntungkan. Upaya Al Gore, mantan Wakil Presiden AS dan Peraih Nobel, untuk merubah perilaku manusia dalam menggunakan sumber daya alam misalnya, meskipun diakui bagus, dalam penilaian Levitt dan Dubner memakan biaya terlalu mahal. Padahal jika digunakan insentif berupa pajak emisi misalnya,  akan dihasilkan solusi yang lebih baik bagi lingkungan.

Bukan hanya manusia sebenarnya yang peka dan mudah distimulasi oleh insentif. Monyet, yang bagi para evolusionis memiliki kedekatan dengan manusia, dalam sebuah eksperimen ternyata juga memiliki kepekaan terhadap insentif. Sejumlah monyet yang dilibatkan dalam eksperimen, setelah melalui sejumlah pengkondisian, ternyata mampu memahami arti penting uang dan perannya dalam transaksi. Bahkan, sebelum akhirnya eksperimen ditutup paksa, monyet-monyet ini menunjukkan bahwa sejumlah perilaku yang selama ini hanya diyakini dapat dilakukan manusia, dapat pula dilakukan species ini: perampokan dan prostitusi.

Kekuatan buku Levitt dan Dubner sebagaimana telah disinggung diatas adalah kekayaan data dan cara pandang yang relatif berbeda dari ekonom pada umumnya. Levitt adalah profesor ekonomi di Universitas Chicago yang pernah meraih Clark Bates Medal, penghargaan bergengsi bagi ekonom perpengaruh AS dibawah usia 40, dan Dubner adalah mantan wartawan The New York Times, salah satu raksasa media di AS. Keduanya menulis Superfreakonomics dengan sejumlah penelitian baik yang dilakukan sendiri oleh Levitt, maupun dengan peneliti lain, ataupun penelitian oleh peneliti dan lembaga lain yang kemudian dibahasakan dan ditulis ulang dengan bahasa yang nyeleneh. Di tangan Levitt dan Dubner kesan bahwa ilmu ekonomi sebagai disiplin yang susah dipahami, karena tema berat dan implikasi kebijakan yang disandangnya, seolah hilang dan hanya menyisakan aspek-aspek yang jenaka dari ilmu ini.

Karya Levitt dan Dubner termasuk sukses di pasaran dengan lebih dari lima juta eksemplar terjual untuk kedua buku mereka. The New York Times bahkan memberikan ruang khusus dalam situs resminya bagi kedua penulis ini. Kolom ‘Freakonomics’ yang berisi catatan Levitt dan Dubner tentang buku mereka dan masalah lain dikaitkan dengan disiplin unik ini, terbukti memiliki banyak penggemar. Bahkan sejumlah isu didalamnya menjadi umpan balik yang berdampak siginifikan bagi karya mereka ini. Terlebih situs pendamping kedua buku ini juga telah dihadirkan untuk menemani pembaca, baik instruktur maupun mahasiswa, untuk juga ikut menyelesaikan permasalahan sehari-hari dengan Freakonomics sebagai frame berpikirnya.

Namun demikian, sebagaimana tradisi ilmiah yang berlaku di manapun, karya Levitt dan Dubner tidak lepas dari debat dan diskusi baik terkait metode analisa, hasil yang diperoleh maupun masalah lainnya. Di dunia akademik hal ini memang lumrah terjadi dan karya Levitt dan Dubner membutikan pentingnya kajian pembanding untuk setiap kajian agar tidak terjadi bias. Kerangka karya Levitt dan Dubner tentu menarik untuk dibawa ke dalam konteks ekonomi Indonesia, terutama berkaitan dengan cakupan bahasan dan debat kebijakan yang mengikutinya. Jika hal ini mungkin dilakukan, tentunya ilmu ekonomi yang lebih semarak dapat juga kita lihat di tanah air.

Tags: , , ,

  1. zal’s avatar

    salam kenal 🙂

    nice post

    rizaldi
    blog detik | blog unand

Comments are now closed.