Ramadhan dan Peradaban

Bulan Ramadhan selain merupakan bulan yang menjadi waktu pelaksanaan ibadah shaum (QS. Al-Baqarah [2]:185), sebagai rukun Islam, juga memiliki makna yang penting bagi peradaban umat Islam, tidak hanya ketika dibangun pada masa awal di Jazirah Arabia, namun hingga puncaknya dan saat ini. Terdapat setidaknya dua peristiwa besar yang menjadikan bulan kesembilan dalam penanggalan Hijiriyah ini memiliki relevansi dengan bangunan peradaban muslim, yaitu turunnya Alquran dan Perang Badar.

Turunnya Alquran yang diperingati pada malam ketujuhbelas setiap bulan Ramadhan merupakan salah satu anugerah terbesar bagi umat Islam, bahkan umat manusia. Alquran diyakini sebagai kitab suci, pedoman hidup, sumber aturan hukum, petunjuk sekaligus mukjizat yang tidak akan lekang selamanya sampai akhir peradaban umat manusia di dunia ini. Umat Islam mengakui kesempurnaan ajaran Islam sebagaimana dikandung Alquran sehingga tiada satupun yang terlewat di dalamnya (QS. Al-An’am [6]:38) sekaligus terjaga kesuciannya sebagaimana dijanjikan Allah SWT (QS. Al-Hijr [15]:9).

Sedangkan Perang Badar menjadi penanda awal kesuksesan ajaran Islam yang masih sangat muda kala itu, saat dihadapkan pada rezim kekuasaan yang menjadi musuh utamanya. Kemenangan gemilang umat Islam pada perang di dekat sumur milik Badar tersebut, memberikan pengaruh signifikan baik bagi umat Islam maupun kaum musyrik Mekkah. Bagi umat Islam, kemenangan atas perang dengan perimbangan kekuatan yang jauh berbeda merupakan bukti ke-Maha Kuasa-an Allah sekaligus pemenuhan janji (nubuwah) dari ajaran Rasul-Nya. Sedangkan bagi kaum musyrik Mekkah kekalahan dalam perang ini, menjadi awal bagi intrik-intrik politik selanjutnya demi menghancurkan ajaran Islam yang berpusat di Yatsrib (Madinah).

Lalu apa relevansi kedua perinstiwa tersebut jika dikaitkan dengan peradaban Islam? Jawabannya terletak antara lain pada relasi dan kohesi yang terjadi pada kedua peristiwa tersebut dengan struktur ajaran Islam itu sendiri. Ketika pertama kali diturunkan, firman Allah dalam Alquran merupakan seruan bagi manusia untuk membaca (QS. Al-‘Alaq [96]1-5). Membaca yang diajarkan Alquran adalah membaca dengan penuh keinsyafan akan kekuasaan Ilahi di alam semesta, dimulai dari membaca diri manusia sendiri melalui proses penciptaannya.

Lima ayat paling awal ini, memberikan petunjuk yang jelas bagi pentingnya ilmu pengetahuan dalam bangunan peradaban Islam sejak dini. Islam dengan Alquran sebagai sumber ajaran utamanya, telah membangun pondasi yang demikian kokoh bagi peradaban berbasis ilmu pengetahuan melalui awal wahyu. Berkembangnya ilmu pengetahuan sebagai perwujudan perintah Alquran ini merupakan salah satu tanda bagi akan munculnya peradaban besar di kemudian hari.

Ibnu Khaldun merupakan salah seorang pemikir Islam yang berpandangan bahwa muncul dan bahkan maju mundurnya suatu peradaban adalah ditopang dengan ilmu pengetahuan. Alquran memang bukan sebuah ensiklopedia ilmu pengetahuan, namun sejumlah besar informasi pengetahuan yang dikandungnya mampu terus bertahan kebenarannya sampai saat ini melalui verifikasi pengetahuan modern. Informasi Alquran tentang jasad Fir’aun yang tenggelam di laut kemudian baru diawetkan menjadi mumi, misalnya, menjadi temuan akademik di dunia kedokteran abad 20 yang membuat ahli bedah kenamaan Prancis, Maurice Bucaille, memeluk ajaran Islam.

Juga bukan merupakan rahasia bahwa ajaran Islam amat dekat, kalau tidak dikatakan berhubungan langsung, dengan ilmu pengetahuan. Kewajiban sholat misalnya, yang diiringi kewajiban wudhu membuat umat Islam harus memperhatikan air. Air yang suci dan mensucikan dalam terminologi hukum Islam, ternyata juga merupakan air yang sehat dalam ilmu kesehatan. Shaum atau ibadah puasa yang dilaksanakan umat Islam selama bulan Ramadhan, di samping puasa sunnah lain, terbukti secara klinis membuat badan menjadi lebih sehat melalui proses penghilangan racun di dalam tubuh. Shuumu tashihhuu, berpuasalah maka kamu akan sehat, demikian Nabi Saw menyabdakan.

Ilmu pengetahuan semata tentu saja belum memadai bagi sebuah bangunan peradaban yang kokoh dan bertahan lama. Diperlukan pula keyakinan yang teguh  dan mendalam akan kebenaran yang dibawa sebuah ajaran sebagai fondasi peradaban. Demikian antara lain pandangaan Sayyid Qutb dan Muhammad Abduh. Keyakinan yang teguh tersebut antara lain terwujud dan dibuktikan sejarah melalui Perang Badar saat tiga ratusan pasukan Islam, dengan izin Allah, mengalahkan pasukan musyrik Makkah yang berjumlah tiga kali lipat lebih. Tidak hanya dari sisi jumlah, umat Islam kala itu juga kalah dari sisi keahlian berperang dan juga kelengkapan persenjataan, sehingga kemenangan yang diperoleh menjadi lebih bermakna.

Kemenangan pasukan Islam di bawah pimpinan Nabi Saw, seolah mengingatkan umat manusia akan kemenangan yang sebelumnya pernah diperoleh Thalut dan pasukannya, yang di dalamnya terdapat Nabi Dawud As, atas pasukan Jaluth. Alquran menggambarkan keyakinan sebagian kecil pasukan Thalut akan kemenangan yang masih mungkin diperoleh meskipun kalah dalam jumlah, kam min fiatin qalilatin ghalabat fiatan katsiratan bi idznilLah, Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah (QS. Al-Baqarah [2]:249).

Perang dalam peradaban manapun merupakan konsekuensi logis dari upaya mempertahankan eksistensi sekaligus menjadi wujud pengakuan akan harga diri. Bangsa-bangsa besar di dunia ini, mulai dari Yunani,  Imperium Romawi, Inggris Raya, dan Prancis, hingga Amerika Serikat dewasa ini, selalu menjadi yang terdepan dalam membangun peradaban antara lain karena ditopang oleh kekuatan militer dan prestasi tempurnya. Bahwa perang merupakan sesuatu yang merusak dan membahayakan jiwa adalah sebuah kesepakatan dalam diri manusia. Namun pada saat diperlukan, seperti dalam kerangka meraih dan menjaga kemerdekaan, perang menjadi pilihan terbaik bagi sebuah peradaban untuk menunjukkan harga dirinya.

Dengan demikian, bulan Ramadhan memberikan umat Islam dua pegangan sekaligus dalam upaya membangun kembali peradaban Islam yang cemerlang. Pertama adalah perlunya kembali mengembangkan ilmu pengetahuan (dan teknologi sesuai konteks kekinian) sebagai wujud dari amanah wahyu Ilahi dalam Alquran dan kedua adalah dengan mengokohkan kembali keyakinan akan kebenaran Islam dalam konteks hubungan dengan peradaban lain. Perang dalam artian fisik memang tetap memiliki potensi akan terjadi pada setiap bangsa, namun menyiapkan infrastruktur yang memungkinkan sebuah bangsa dan peradabannya maju tanpa peperangan kini terus menjadi kebutuhan.

Dalam konteks Indonesia, sebagai bangsa dengan umat Islam terbesar dunia, semangat bulan Ramadhan bagi peradaban ini menjadi lebih nyata untuk diwujudkan di tengah keterbelakangan bangsa secara masif baik dalam aspek pendidikan, politik, budaya maupun aspek lainnya di wilayah regional. Keterbelakangan di bidang pendidikan antara lain mengakibatkan besarnya ketimpangan sosial di masyarakat dan makin derasnya arus perpindahan sumber daya manusia berkualitas ke luar negeri. Sedangkan dalam aspek politik dan budaya, keterbelakangan menyebabkan mudahnya bangsa ini menerima hinaan bangsa lain akibat lemahnya kemauan pemerintah untuk melawan, padahal dukungan rakyat demikian besar. Semoga semangat Ramadhan menjadikan kita bangsa yang kembali bangkit di bidang pendidikan, politik dan budaya demi kemajuan Indonesia.

Tags: ,